LDR Itu Berat, Jendral! - KELAS CINTA

kenali kegelapan, kesulitan, dan kedinginan yang terjadi dalam Long Distance Relationship.. [BOOKMARK THIS PAGE, FREQUENTLY UPDATED!]

Embed

  1. jika Anda dan pasangan ngotot tidak ada pilihan lain selain LDR, klik ➡ atur sesi konsultasi ⬅ dengan saya.. agar kalian bisa menyusun strategi terbaik untuk memelihara hubungan, apalagi jika belakangan ini sedang terjadi gangguan.

    jangan (terus-terusan) keras kepala ngeyel sok tahu dan sok bisa sendiri..
  2. menurut saya, Long Distance Relationship salah satu bentuk relasi cinta yang paling rumit dan tidak alamiah. karena tujuan dasar hubungan cinta adalah reproduksi yang sangat bergantung pada keintiman, dan LDR menantang tujuan dasar tersebut..

    kemajuan teknologi memang semakin mampu 'menghilangkan' batasan jarak (komunikasi), namun sampai saat ini masih belum bisa memenuhi relung keintiman sebagaimana mestinya. akibatnya pasangan LDR sekalipun serius komitmen menjaga hubungan, akan selalu berhadapan dengan isu tambahan yang saya sebut Sumber Kehangatan Lokal (SKL).

    jika setiap relasi romansa PASTI diwarnai gejolak perselingkuhan, bisa dibayangkan dong bagaimana LDR akan lebih sering gaduh bergejolak dengan isu-isu SKL? itu baru soal isu keintiman antar pasangan, belum isu biaya, manajemen waktu, pola asuh keluarga, metode komunikasi, dst.

    menurut sejumlah penelitian, LDR punya potensi selingkuh yang sama tingginya dengan hubungan non-LDR. itu bisa dibilang berita baik. berita buruknya adalah, “Tingkat ketakutan dan kekhawatiran akan selingkuh yang dialami pasangan LDR jauh lebih tinggi dibanding pasangan non-LDR,” menurut GT Guldner sebagai salah seorang ilmuwan peneliti tentang hubungan jarak jauh..

    seringkali stress kekhawatiran itulah membuat hubungan jadi penuh konflik dan akhirnya hancur, padahal keduanya sangat cocok dan sudah berusaha setia satu sama lain..

    jadi bukannya LDR tidak bisa langgeng harmonis sih, cuma tingkat kesulitannya lebih tinggi aja.. yang berarti kedua orang yang terlibat perlu punya kemampuan relasi yang jauh di atas rata-rata, sehingga terasa mahal dan berat sekali..

    contoh 'pekerjaan rumah' yang harus selalu dipenuhi dalam LDR, walaupun energi dan mood nya sedang tidak ada (dikutip dari ini): "Bantu kekasih Anda merasa akrab, dekat, dan terhubung dengan keseharian Anda, sama seperti yang sewajarnya terjadi jika kalian tidak menjalani LDR. Buat dia merasa menjalani kehidupan dan keseharian Anda walau terpisah jarak dan waktu. Juga buat diri Anda merasa menjalani hidupnya. Hal ini otomatis terjadi bila Anda tidak LDR."

    sederhana 'kan?

  3. Sesi Question & Answer tentang LDR


    <----------------------------------->

    Q1: "Gimana caranya sabar dalam hubungan jarak jauh? Setiap abis ketemu dan ditinggal 'lagi' selalu nangis, sedih, nyesek. Padahal 2 minggu sekali ketemu, apa gara-gara dulunya setiap hari bareng jadi gini ya? 😭"

    caranya sabar dalam LDR sama seperti caranya sabar dalam non-LDR: miliki kegiatan pribadi yang membahagiakan dan menyenangkan agar Anda tidak terlalu fokus dengan jarak yang memisahkan..

    soal sedih dan nyesel karena berpisah, memang seperti itu rasanya LDR: kesel karena serba dibatasi ini itu. awalnya sih masih bisa kuat nahan, lama-lama jadi gampang irritated. kalau terus begitu (tanpa ada usaha perbaikan) jadi merasa capek dan iseng-iseng ngisi kebutuhan dengan Sumber Kehangatan Lokal.. dan akhirnya cepat atau lambat selingkuh deh. congratulations.. 😆

    <----------------------------------->

    Q2: "Gimana ya agar LDR tidak jenuh? Kayaknya kalau chat-chat'an aja tiap hari takut bosen atau jenuh soalnya ngelakuin aktifitas yang gitu-gitu aja. Ga LDR'an aja pasti jenuh, apalagi LDRan."

    jika otak Anda masih suka mati gaya nyerah/gerah ketika menghadapi rasa jenuh, tolong jangan pacaran/merit.. apalagi jarak jauh. tentang cara-cara menjaga gairah, baca ini: Agar Hubungan Tidak Dingin Stagnan..

    <----------------------------------->

    Q3: "Ko Lex, aku dann cowokku udah pacaran +/- 2 tahun. Selama 8 bulan terakhir ini , LDRan Bali-Solo. Akhir Jan dia berangkat Jepang selama 3 tahun untuk magang. Temanku dan mama menyarankan untuk menanyakan keseriusan hubungan kami. Menurut ko Lex perlukah aku menanyakan keseriusan hubungan sebelum LDR jauh?"

    amat sangat kudu musti perlu banget! dan keseriusan itu bukan cuma berarti ucapan, "Iya aku serius kok!" melainkan harus ada jawaban yang ekstra detil! long distance relationship adalah (salah satu) bentuk hubungan yang paling berat dan menyusahkan, maka jangan pernah LDR'an jika tidak ada tujuan yang spesifik maupun program kerja untuk menyudahi masalah jarak itu.

    tujuan spesifik maksudnya LDR sebaiknya bukan untuk pacaran santai yang tidak ada deadline pasti kapan menikah. kalo mau pacaran hepi-hepi jalanin aja sambil nunggu selesai studi atau mapan sih jangan LDR, jauh lebih baik dan memuaskan cari pacar yang satu lokal aja.

    program kerja maksudnya LDR itu hubungan yang bermasalah, itu sebabnya dari awal harus ada solusi yang terukur dan nyata tentang masalah jarak tersebut. ada dua masalah yang harus terpecahkan dalam LDR:
    1. apa saja program kerja membina keintiman di sepanjang LDR itu?
    2. apa saja program kerja agar secepatnya tidak LDR lagi, alias kembali tinggal satu lokal?

    kalau KEDUA PIHAK kesulitan menjawab dua hal itu secara mendetil, then jangan LDR'an deh. mending putus aja langsung saat itu juga. percuma lanjut dipaksain.. pasti bakalan ancur pelan-pelan, apalagi ketika nanti muncul kehadiran figur Sumber Kehangatan Lokal yang sudah saya bahas di atas. :D

    <----------------------------------->

    Q4: "Bagaimana tips mengembalikan mood pacar (cowok) yang lagi jenuh LDR'an karena kita bertengkar terus?"

    mood dia adalah tanggung jawab dia, jadi biarkan dia urus sendiri mood-nya 1 hari pasca bertengkar. saran saya pada jadwal ketemuan berikutnya, diskusi untuk gali solusi dan dia naikin mood-nya sendiri supaya balik santai hepi lagi, BARULAH ANDA BERUSAHA ajak makan dan main-main yang seru.

    susah diskusi karena LDR? putus aja lah.. terlalu ribet dan cape untuk dijalanin, khususnya jika kalian berdua sama-sama masih bocah dan urus mood sendiri aja ga bisa.

    <----------------------------------->

    Q5: "Aku masih mahasiswi, cowokku di Jakarta aku di Surabaya. Kalau aku mau samperin dia ke Jakarta buat liburan pantes ga Lex? Aku sebagai cewek yang nyamperin soalnya dia kerja dan sepertinya ga ada cuti lagi sampai tahun baru."

    memang apa salahnya nyamperin pacar? kok begitu saja bingung? nekat amat ngejalanin LDR kalau cara berpikir masih aneh dan ribet begitu?

    <----------------------------------->

    Q6: "Suamiku baru ditawarkan posisi yang lebih tinggi tapi dia harus keluar negeri (Singapura), sementara aku lebih nyaman di Indo. Menurut Ko Lex, baikkah jika kami jalanin ini long distance?"

    baik atau tidaknya, ya tergantung dari seberapa kompatibel dan kompeten kalian berdua menjalani relasi cinta. namun yang jelas adanya JARAK dalam hubungan selalu menciptakan banyak beban tambahan dari segi biologis, psikologis, dan juga finansial.

    karena saya tidak kenal Anda dan pasangan, jadi saya ambil asumsi umum aja bahwa kompabilitas dan kompentensi relasi cinta kalian TIDAK spesial/eksepsional.. atau setidaknya kalian tidak se-spesial/se-eksepsional yang kalian pikir.

    atas dasar itu, saya menganjurkan untuk TIDAK menjalani pernikahan secara long distance. jika Anda merasa pribadi Anda lebih nyaman tinggal di Indo, saya tidak akan membantah, karena itu memang soal selera.

    namun saya ingin mengingatkan jika Anda memilih mementingkan KENYAMANAN tinggal di Indo, berarti Anda sedang memastikan pernikahan Anda dan dia LEBIH BERBEBAN DAN AKHIRNYA JADI TIDAK NYAMAN karena perihal jarak itu.

    silakan perhitungkan sendiri deh mana yang lebih penting menurut Anda. jika tetap ngotot mau di Indo dan tidak mau LDR, ya bisa juga kok: minta suami menolak tawaran pekerjaan di Singapur itu. beres.. Anda hepi, hubungan juga hepi terhindar dari beban tak perlu.

    palingan suami yang ga begitu hepi, but ga penting lah perasaan suami kan yah.. :p

    <----------------------------------->

    Q7: "Gimana menormalkan keadaan jika berantem saat LDR?"

    sama persis seperti hubungan jarak dekat kok. jika emosinya meluap-luap, beri waktu beberapa jam untuk menenangkan diri. setelah tenang, baru bahas dengan kalem sampai ketemu solusinya. karena ini LDR, saya sarankan bahasnya via video call, jangan lewat chatting ataupun e-mail..

    <----------------------------------->

    Q8: "Apakah pria dapat dipercaya dalam membina hubungan LDR sementara dia berkarier di dunia seni rupa?"

    seseorang bisa dipercaya atau tidak hanya bisa dilihat dari track record-nya dalam perjalanan, bukannya dari jenis kelaminnya ataupun dari pilihan kariernya. jika Anda merasa sulit percaya, kemungkinan besar Anda-lah yang bermasalah/tidak-mampu mempercayai orang dalam hubungan LDR..

    <----------------------------------->

    Q9: "Baru aja semalem aku putus, gar-gara si cowok bosen 😂 . Awal hubungan kita mesra bener, tiada hari tanpa telepon, vidcall, message. Tapi makin lama makin berkurang frekuensinya, jarang banget SMS, hahaha! Kenapa begitu ya? Gimana Lex solusinya untuk LDR? Aku juga ga pengen LDR sebenarnya, tapi karena tempat kerja yang beda pulau yang mengharuskan begini dan jarang ketemu."

    tentang makin berkurang frekuensi komunikasi, itu juga terjadi dalam hubungan non-LDR. namun itu lebih cepat terjadi karena LDR tidak ada sensasi greget dan gairahnya alias chemistry yang sudah saya bahas di atas. sementara tentang baru putus, selamat menempuh hidup baru, dear. lain kali jangan nekat LDR'an lagi.

    <----------------------------------->

    Q10: "Sepanjang LDR, masalah kami adalah sering salah paham dalam berkomunikasi. Kurang bisa percaya. Jadi harus lanjut ga?"

    kalau Anda sering salah paham dalam berkomunikasi, coba amati hal APA SAJA yang membuat kalian salah paham begitu. apakah karena MEDIA-nya? apakah karena WAKTU-nya? apakah karena WAKTU-nya? apakah karena NADA PENYAMPAIAN-nya? apakah karena PEMILIHAN KATA-nya? apakah karena CARA MENJAWAB-nya?

    karena Anda bilang 'sering', pasti ada pola yang berulang. tugas Anda dan dia akan berdiskusi dan mencatat hal-hal yang memicu kesalahpahaman itu, lalu memperbaikinya. sementara soal kurang bisa percaya, nah itu sih soal minder.. Anda baca juga artikel Cara Menyakinkan Diri ya.

    <----------------------------------->
  4. <----------------------------------->

    Q11: "Saya berusaha mendekati gebetan dari kota lain. Dia tidak berusaha mencari topik pembicaraan sewaktu chat. Apa yang harus dilakukan?"

    ada dua kemungkinan kenapa seseorang tidak meresponi: pertama, dia tidak tertarik; kedua, dia tertarik tapi pasif dan jual mahal. kita tidak akan bisa tahu persis dia yang mana. tapi yang jelas orang keren tidak akan menghabiskan waktu dengan gebetan yang tidak tertarik dan gebetan yang ribet.

    jadi saya sarankan: move on saja.. biarkan dia rugi kehilangan Anda.

    <----------------------------------->

    Q12: "Karena LDR jauh sekali, kita jarang ketemu. Kira-kira biar hubungan ga membosankan, doi gak bosan dan jadi betah gimana?"

    pertemuan bukan kunci ketidakbosanan. justru terlalu sering bertemu dan mengobrol akan bikin hubungan jadi membosankan. masing-masing orang harus punya kehidupan yang luas dan kegiatan yang menggembirakan, agar ada bahan obrolan yang seru dengan pasangannya via video call.

    kalau Anda tidak mengerti kenapa begitu, baca artikel ini ya: Hubungan Jenuh Adalah Ulah Dua Orang Dungu.. 😏

    <----------------------------------->

    Q13: "Cara mengurangi kesalahpahaman dan kecemburuan ketika si cowok mengaku menyukai wanita lain di kotanya dan dekat dengan wanita tersebut?"

    A: cara mengurangi kesalahpahaman, ya perbanyak mengobrol dan bertanya. cara mengurangi kecemburuan, ya minta pasangan untuk membatasi kedekatan dan memperkenalkan wanita itu ke Anda.. seperti sudah saya jelaskan panjang lebar dalam Ekosistem Selingkuh.

    <----------------------------------->

    Q14: "Kalau LDR tidak disarankan. tapi kenapa ada pasangan LDR yang bisa tahan bertahun-tahun dan katanya cenderung perasaannya lebih dalam. Mengapa bisa begitu? Apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan sehingga bisa tahan uji?"

    A: saya tidak menyarankan LDR bukan berarti LDR tidak bisa berjalan baik. sangat bisa kok, cuma mahal dan luar biasa melelahkannya. para pasangan yang langgeng LDR pasti memiliki komitmen super tinggi melakukan 'pekerjaan rumah'-nya, sebagaimana sudah saya jelaskan di halaman ini dan beberapa links artikel terkait..

    <----------------------------------->

    Q15: "Cara komunikasi yang baik untuk LDR tuh gimana ya? Misalkan telponan atau video call cukup seminggu sekali atau ketika kita lagi kangen aja?"

    A: sepakati waktu dan jadwal mengobrol tanpa distraksi (alias fokus, tidak sambil mengerjakan hal lainnya). bisa lima belas menit, bisa tiga puluh menit, bisa satu jam, terserah suka-suka Anda. yang pasti harus dilakukan setiap hari. paling enak sebenarnya dilakukan sebelum tidur malam. gunakan videocall agar bisa lebih ekspresif dan intim.

    terlepas dari jadwal ini, silakan saja melempar sapaan atau candaan random sesekali dua atau tiga kali sehari di tengah kesibukan masing-masing.. asal tidak terus-terusan, oke?

    <----------------------------------->

    Q16: "Komunikasi berjalan baik, dan selalu ada timbal balik. Namun dia jarang memberikan topik pembicaraan yang bervariasi (kurang kreatif), sehingga kadang saya duluan yang mulai topik bahasan yang bervariasi. Apa yang harus dilakukan?"

    A: bukan saja tingkat kreatifitas orang berbeda-beda, tapi seiring waktu kreatifitas itu pun akan secara alami memudar dan 'habis'. ini salah satu hal kenapa saya TIDAK merekomendasi LDR.

    pada hubungan non-LDR, obrolan mudah terjadi secara alamiah karena asal bertemu saja biasanya ada banyak yang bisa dikomentari dan didebatkan. bahkan tanpa ada bahan obrolan pun, kedua orang itu bisa tetap merasakan keintiman satu sama lain lewat kontak fisik, permainan, dan aktivitas bersama lainnya..

    tapi dalam LDR, kita harus memaksakan diri untuk terus mencari bahan obrolan karena hanya itu yang bisa dilakukan. sekreatif-kreatifnya Anda dan seproaktif-proaktifnya Anda, pasti akan buntu dan lelah juga. apalagi bila merasa pasangan tidak berkontribusi seimbang. itulah yang terjadi dalam kasus Anda..

    jadi apa yang harus dilakukan? cuma bisa menegur saja dan memberitahu apa yang barusan saya tulis di atas. minta dia untuk tidak malas memikirkan bahan obrolan dan memulai pembahasan. jika setelah ditegur berkali-kali tidak ada perubahan, ya sudah bubarkan saja.. 👍


    <----------------------------------->

    Q17: "Kendala kita ada di waktu. Meskipun kita hanya beda 3 jam, tapi itu berasa banget. Tapi kadang saya bingung tentang topik pembicaraan. Jadi, kita sering video call lama tapi bingung mau ngobrol apa dan jadinya cuma tatap-tatapan atau nyanyi-nyanyi."

    ini sudah saya jawab pada pertanyaan sebelumnya. saya beri tambahan info ya: sebenarnya topik bisa APA SAJA, bahkan mengulang yang sudah lewat pun bisa. coba lihat deh penjelasan Topic Generator ini..

    <----------------------------------->

    Q18: "Waktu baru jadi hubungan chat kami lebih asik dibanding sekarang, dan kami saling balas cukup cepat. Tapi sekarang engga begitu lagi. Pasangan gue mengingatkan gue yang sekarang bales chat suka lama bales. Doi merasa takut jadi ga saling peduli lagi & males kontakan lagi seperti pasangan LDR lainnya. Kenapa dan bagaimana cara menyikapinya? Karena menurut saya ga harus setiap kesempatan buat kasih kabar, terutama kalo memang lagi kehabisan topik atau ga ada yang perlu disampaikan lagi."

    soal kenapa begitu, harusnya sekarang Anda tahu karena sudah baca jawaban-jawaban di atas. soal bagaimana menyikapinya, ya buat kesepakatan untuk sehari berapa kali memberi kabar dan berbalasan santai seperti itu.

    beri juga dia pengertian bahwa tidak perlu reply chat cepat ataupun ngobrol sepanjang hari untuk membina hubungan. jangan lupa bujuk dia untuk membaca lengkap seluruh halaman ini ya!


    <----------------------------------->

    Q19: "Pasangan saya sering merasa bad mood ketika sudah lama tidak bertemu. Waktu itu hampir 2 bulan belum bertemu dan sering kesal ketika ditelepon. Bagaimana caranya agar bisa menjaga kondisi dia dan saya agar tetap good mood walau sudah lama tidak bertemu?"

    pada saat pertemuan berikutnya, tanyakan padanya secara spesifik apa yang membuatnya kesal. dengarkan penjelasannya, cari tahu apa kebutuhannya. tanyakan apakah dia memiliki cara yang baik untuk meregulasi dan melepaskan bad mood. jika tidak ada, maka sama-sama cari panduan belajar melakukan itu..

    saya tidak tahu seberapa jauh jarak kalian, jadi sulit menilai apakah dua bulan itu terlalu lama atau tidak. kalian sendiri-lah yang menentukan frekuensi terbaik untuk bertemu dan disiplinkan diri untuk menaati kesepakatan waktu itu.

    soal kangen dan bad mood karena terlalu lama menunggu, ya itu adalah masalah dia. bila dia tidak dapat menemukan cara untuk mengelola perasaan diri, lebih baik Anda bubarkan saja.. karena dianya yang bermasalah.


    <----------------------------------->

    Q20: "Bagaimana agar hubungan tetap hangat dan romantis? Bagaimana mengetahui bahwa pasangan kita bisa dipercaya?

    nih saya kutip dari sini: 'Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menciptakan keintiman secara virtual. Mulai dari sesederhana mengirim gambar edit-an dan foto lucu dari kencan terakhir, atau mengirim puisi buatan sendiri dan rekaman audio bernyanyi lagu cinta, atau mengirim bacaan yang menginspirasi hubungan seperti artikel ini, atau sampai ke bercanda dan menggoda secara sensual lewat video chatting. Tindakan-tindakan manis ini sulit dilakukan bila Anda tidak LDR, karena rasanya aneh saja bila bisa bertemu langsung tapi malah mengirim video kiss-kiss.'

    soal mengetahui pasangan bisa dipercaya atau tidak, itu akan terlihat setelah menjalani hubungan sekian lama. apakah dia bertanggungjawab dengan janji dan kewajibannya. apakah dia menghargai ruang dan kepercayaan yang Anda berikan.

    bila semakin hari terasa semakin 'kendor', Anda perlu menegur dan mengingatkannya berkali-kali. jika sudah ditegur malah jadi defensif dan emosional, bubar saja.. simpel kok.
Like
Share

Share

Facebook
Google+