Pengertian Aqiqah Merujuk Agama Islam

Embed

  1. Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang secara penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan jika aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang tersembunyi pada penyelenggara si balita ketika ia keluar atas rahim embuk, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.
  2. Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 sudut untuk balita laki-laki & 1 ekor untuk momongan perempuan.
  3. Dalil-dalil Pelaksanaan
  4. Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]
  5. Mulai Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bocah perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]
  6. Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]
  7. Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bersabda: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, dipastikan sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]
  8. Daripada ‘Amr bin Syu’aib atas ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:
  9. “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]
  10. Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. harga aqiqah bandung [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]
  11. Tanda: Hasan & Husain adalah cucu Nabi SAW.
  12. Atas Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah bertitah: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada sosok miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]
  13. Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).
  14. Hukum Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama pandai fiqih (fuqaha).
  15. Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah merupakan hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)
  16. “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya tahi kotok (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)
  17. Perkataan: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun tidak bersifat wajib, karena siap sabdanya yang memalingkan atas kewajiban adalah: “Barangsiapa diantara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).
  18. Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.
  19. Imam Malik berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di dalam aqiqah tersebut hewan yang picak, mersik, patah rangka, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam hewan aqiqah berikut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.
  20. Buraidah berkata: Lalu kami pada masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah wedus itu. Oleh karena itu setelah Tuhan mendatangkan Islam, kami memotong kambing, mencukur (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud juz 3, hal. 107]
  21. Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka melumuri kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu saat mencukur serabut si budak mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah kadim itu secara minyak wangi”.[HR. Rumpun Hibban beserta tartib Putri Balban perkara 12, hal. 124]
  22. Pelaksanaan aqiqah dari sisi kesepakatan karet ulama merupakan hari ketujuh dari kelahiran. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW berkata, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).
  23. Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak juga, maka saat hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) bagi dasar imbauan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah cukup. Karena pijakan ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)
  24. Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sambil At Tirmidzi)
  25. Dan apabila tidak siap melaksanakannya pada hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan bila tidak mampu, maka di dalam hari di dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah mulai ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih di dalam hari ketujuh, ke empat belas, dan ke 2 puluh tunggal. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)
Like
Share

Share

Facebook
Google+